Beranda > News > Jokowi atau Prabowo?

Jokowi atau Prabowo?


Meskipun belum sempurna, tapi saya bersyukur bahwa iklim demokrasi di Indonesia sudah semakin baik. Dimulai dengan Pak Habibie yang mengawal reformasi, Gus Dur – Mega yang teguh mempertahankan persatuan NKRI saat rawan perpecahan, dan SBY – JK – Budiono yang menetapkan pondasi ekonomi sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor. Saat ini kita menghadapi pilpres dengan dua kandidat yaitu Jokowi – JK dan Prabowo – Hatta. Tidaklah mungkin kita berharap dua kandidat yang tersedia itu sempurna. Tapi pada akhirnya, kita tetap harus menjatuhkan pilihan pada salah satu diantaranya.

jkwprw

Salah satu hal menarik yang saya amati pada pilpres kali ini adalah meningkatnya daya kritis masyarakat, khususnya golongan menengah. Akibatnya, media sosial penuh dengan topik capres yang bahkan membuat sebagian orang kesal. Tetapi kalau dipikir-pikir, lebih baik kita “meributkan” hal ini sekarang agar mendapat presiden terbaik, ketimbang “meributkan” hal ini belakangan, lalu mengeluhkan kinerja buruk sang presiden yang sudah terlanjur terpilih.

Dua Kelompok Pemilih

Dalam setiap pemilu, selalu ada dua kelompok pemilih.

Kelompok pertama adalah pemilih terafiliasi, yaitu kelompok orang-orang yang merasa memiliki kesamaan latar belakang atau kepentingan dengan salah satu capres. Faktor kesukuan, agama, sekte, afiliasi bisnis, biasanya merupakan alasan klasik yang diutamakan. Kelompok ini sudah menjatuhkan pilihan kepada sang capres tanpa mau mendengar pendapat apapun, selain apa yang ingin mereka percayai. Mereka akan mengangkat kebaikan jagoannya, tetapi pura-pura tidak tahu, menutupi, bahkan menampik keburukan sang idola. Di sisi lain, mereka selalu memojokkan, menyebarkan keburukan, serta menyangkal kebaikan kandidat lawan.

Kelompok kedua adalah pemilih tidak terafiliasi (bebas), yaitu kelompok orang-orang yang bisa memilih kandidat manapun yang paling meyakinkan. Kelompok ini terkadang disebut swing-voters book, karena pilihannya tidak dapat diprediksi dan seringkali baru membuat keputusan di saat menjelang hari H pemilu.

Setiap kubu pasti memiliki pemilih terafiliasi (kelompok pertama). Umumnya populasi pemilih terafiliasi di setiap kubu relatif berimbang. Oleh karena itu keberadaan kelompok kedua menjadi sangat penting, karena sesungguhnya suara kelompok kedua-lah yang akan menentukan siapa pemenangnya.

Tulisan saya dibawah ini ditujukan untuk orang-orang kelompok kedua, yaitu:

yinyangKelompok orang yang bisa melihat bahwa ada kebaikan dan keburukan pada setiap capres, tidak jahat banget vs. malaikat banget seperti yang tersaji di sinetron.

validKelompok orang yang memutuskan berdasarkan informasi valid, bukan berita-berita settingan media massa yang sedang panen bayaran.

ideaKelompok orang berpikiran terbuka yang mau mengubah pendapat jika menemukan kebenaran ternyata berbeda dari keyakinannya selama ini.

Persepsi Bukanlah Kenyataan

politicKebanyakan orang hanya mengikuti pendapat orang yang dianggap lebih mengerti atau mengambil kesimpulan berdasarkan informasi yang beredar. Hal ini dimanfaatkan oleh tim sukses dan simpatisan kedua kubu untuk menciptakan persepsi yang menguntungkan jagoannya. Bahkan seringkali mereka menyebarkan informasi keliru, yang diciptakan sepenuhnya demi kepentingan sang jagoan. Politik memang kotor, that’s the fact.

Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Fadli Zon dan Pak Anies Baswedan, bagaimanapun mereka berdua adalah Tim Sukses yang bertugas memenangkan pasangan capres yang diusungnya. Tentu saja, kalimat yang terucap akan dikemas agar menciptakan persepsi baik terhadap capres dukungannya, serta menciptakan persepsi buruk terhadap capres lawan. Oleh karena itu, sudah sudah sepantasnya kita mem-validasi “pesan” kedua timses tersebut.

 

fadlizonFadli Zon berusaha menyederhanakan analisa dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang jujur, cerdas, independen, dan terbukti berprestasi. Dia berusaha menggiring opini publik bahwa Jokowi tidak jujur karena melanggar janjinya sendiri tidak nyapres, tidak cerdas karena tidak mampu mengartikulasikan visi apalagi berorasi, tidak independen karena selalu menurut pada kemauan partai, dan minim prestasi karena sebagai gubernur Jakarta belum ada hasil yang signifikan.

Syawalan Alumni HMI MPOAnies Baswedan berusaha menggiring opini dengan mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan “kebaruan”, yaitu pemimpin dan kelompok penguasa baru, karena selama pemerintahan dijalankan oleh pemimpin dan kelompok lama, hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Dia juga berusaha membuat Prabowo tampak tidak layak untuk menjadi capres dengan mengatakan bahwa dia mendukung orang baik, yaitu orang yang tidak punya catatan buruk masa lalu.

Mari kita pikirkan secara lebih objektif. Apakah Jokowi tidak cerdas dan minim prestasi? Apakah Jokowi hanya boneka yang tidak berdaya melawan tekanan partai? Apakah orang “baru” pasti lebih baik dari orang “lama”? Apakah ada bukti konkrit bahwa Prabowo adalah dalang kerusuhan 1998 dan terlibat kasus kudeta?


Mari Menjadi Pemilih Yang Lebih Cerdas 🙂


Kriteria Pemimpin

Sebelum membandingkan kedua pasangan capres, kita perlu terlebih dahulu menentukan kriteria yang tepat. Presiden akan bertanggung jawab dalam hal-hal besar, rumit, dilematis, yang harus diputuskan dengan cepat dalam situasi penuh tekanan. Oleh karena itu, seorang presiden harus-lah seseorang yang arif dan bijaksana. Hmmm… kita semua pasti pernah mendengar istilah “Pemimpin yang Arif dan Bijaksana”. Arif dan Bijaksana  dalam bahasa inggris adalah Wise, dimana kata bendanya adalah Wisdom. Berikut definisi Wisdom di Wikipedia:

Wisdom is the ability to think and act using knowledge, experience, understanding, common sense, and insight.[1] Wisdom has been regarded as one of four cardinal virtues; and as a virtue, it is a habit or disposition to perform the action with the highest degree of adequacy under any given circumstance. This implies a possession of knowledge or the seeking thereof in order to apply it to the given circumstance. This involves an understanding of people, things, events, situations, and the willingness as well as the ability to apply perception, judgement, and action in keeping with the understanding of what is the optimal course of action. It often requires control of one’s emotional reactions (the “passions”) so that the universal principle of reason prevails to determine one’s action. In short, wisdom is a disposition to find the truth coupled with an optimum judgement as to what actions should be taken in order to deliver the correct outcome.

Memilih orang yang bijaksana tentu tidak bisa hanya berdasarkan janji kampanye semata. Untuk menentukan siapa yang dianggap bijaksana dan siapa yang tidak, pada akhirnya kita harus bertumpu pada rasa percaya (kepercayaan). Oleh karena itu, ijinkan saya mengacu pada konsep Kepercayaan (Trust) yang disajikan pada buku “Speed of Trust” (M.R. Covey) book. Dalam bukunya ditulis bahwa kepercayaan didasarkan pada karakter dan kompetensi seseorang. Untuk menilainya, kita bisa menggunakan 4 empat faktor, yaitu:

  • Integritas (Integrity)
  • Niat (Intent)
  • Kemampuan (Capabilities)
  • Hasil (Result). 

Integritas (Integrity) bukan hanya masalah kejujuran. Integritas seseorang ditentukan oleh: Congruency, yaitu pikiran dan ucapannya selalu sesuai (jujur), emosi dan ekspresinya selalu selaras (tidak berpura-pura). Humility, yaitu mau mengakui kesalahan dan bersedia mengkoreksi pendapatnya. Courage, yaitu mampu melakukan hal yang benar, meskipun itu sangat sulit dan beresiko.

Niat (Intent) yang ditentukan oleh: Motive, yaitu alasan atau tujuan kenapa seseorang berbuat sesuatu. Agenda, yaitu langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tersebut. Behaviour, adalah bagaimana motif dan agenda terwujud dalam bentuk tindakan yang tampak dan dapat dinilai oleh orang lain.

Kemampuan (Capabilities) yang ditentukan oleh 5 hal, yaitu:

  • Talents (Bakat): Hal-hal yang secara alamiah bisa dilakukan dengan baik
  • Attitude (Sikap): Bagaimana seseorang memandang sesuatu
  • Skills (Keahlian): Hal-hal yang sudah dipelajari dan mampu dilakukan dengan baik
  • Knowledge (Pengetahuan): Apa yang diketahui seseorang
  • Style (Gaya): Cara unik seseorang dalam melakukan sesuatu

Hasil (Result) yang ditentukan oleh apa yang terbukti mampu dihasilkan oleh seseorang di masa lalu (track-record), apa yang sedang dia lakukan saat ini, dan apa yang mungkin bisa dia capai di masa yang akan datang.


Dalam memilih presiden, kita membutuhkan seseorang yang memiliki integritas tinggi, niat (agenda) yang baik, kemampuan yang mumpuni, dan prestasi yang terbukti. Piufff… Kok banyak bener?… Yaaa kalau sedikit, abang-abang pengangguran juga bisa dong jadi presiden 😛

Dalam konteks pilpres, ijinkan saya menyusun kriteria presiden sebagai berikut:

equak=l

Memiliki Integritas Tinggi, yaitu memegang teguh setiap janjinya, selalu bersikap adil, tegas dalam penegakan hukum, konsisten membela yang benar, mampu mengakui kesalahan, dan berani mengambil tindakan yang benar meski menjadikannya tidak populer.

target

Memiliki Niat Baik, yang digambarkan secara jelas dalam bentuk visi-misi yang terukur agar dapat dipantau progress pencapaiannya, memaparkan rencana eksekusi yang masuk akal, dan menunjukkan bahwa selama ini dia berperilaku sesuai dengan visi-misinya tersebut.

tools

Memiliki Kapabilitas, yang mencakup wawasan kenegaraan yang luas, teknik komunikasi yang efektif, teknik membina hubungan internasional, sikap mengayomi, dan gaya pendekatan yang sesuai kultur masyarakat Indonesia.

trophy

Memiliki Prestasi dan Rekam Jejak Yang Baik, yaitu berprestasi di bidang yang relevan dengan tugasnya nanti sebagai presiden, tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin bangsa, dan pernah membuktikan dirinya peduli dengan negara serta rakyat Indonesia.

Membandingkan Pilihan

Sebelum mulai membandinglan, ingatlah bahwa kunci dari suatu penilaian yang baik adalah objektifitas (tidak berpihak) dan validitas (mengacu pada informasi yang lengkap dan akurat).

checkmarkSebagai individu, setiap orang punya kepentingan yang bisa mengaburkan objektifitas. Jika kita ingin menjadi lebih objektif, berusahalah untuk mengabaikan dulu kepentingan kita selama melakukan penilaian. Akui keburukan jagoan, akui juga kebaikan lawan. Kita sedang ingin mendapatkan kebenaran, bukan sekedar mencari pembenaran bukan?
justiceInformasi yang kita ketahui berasal dari sumber tertentu. Kita tahu bahwa media membela yang bayar, bukan membela yang benar. Cari informasi dari kedua belah pihak. Percaya pada apa yang dapat kita percayai, jangan sekedar percaya pada apa yang ingin kita percayai. Validasi benar/tidaknya kebaikan jagoan, seperti halnya validasi benar/tidaknya keburukan lawan.

Dibawah ini adalah tabel yang berisi infomasi yang beredar tentang kedua capres sesuai nomor urutnya.

Mohon jangan langsung naik darah ketika membaca poin-poin dibawah ini 🙂 Ingat, tidak semua poin dapat dipercaya. Sebagian poin yang muncul di sini bisa jadi settingan, pencitraan, atau bahkan fitnah. Tugas kita adalah mencari informasi, lalu memutuskan mana yang valid dan mencoret yang tidak valid. Silahkan menambahkan item yang baru jika memang belum ada.

Mohon diingat bahwa poin-poin dibawah ini adalah contoh isi perbandingan. Tulisan ini tidak bermaksud menggiring opini pembaca untuk mendukung salah satu capres.

INTEGRITY

prabowo-hattaPrabowo adalah pribadi yang terbuka dan selalu bersedia dikonfirmasi atas hal-hal seputar dirinya. Selama menjadi anggota militer, Prabowo membuktikan dirinya sebagai pemimpin yang berani dan bertanggung jawab.

Prabowo tersangkut kasus pelanggaran HAM (penculikan aktifis) dan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Meskipun Prabowo sudah sering menjelaskan mengenai hal ini, tetapi simpang-siurnya informasi menyebabkan beberapa pihak meragukan kebenaran ucapan dan pikiran beliau (congruency). 

Koalisi pendukung Prabowo banyak diisi orang-orang lama yang selama ini tersangkut kasus, misalnya ARB (Golkar) yang tersangkut kasus Lumpur Lapindo, dan Suryadharma Ali (PPP) yang dijadikan tersangka oleh KPK. Hal ini bisa menyulitkan pemerintah baru untuk memiliki keberanian (courage) dalam membuat terobosan kebijakan, karena dihambat oleh “dosa” orang-orang lama tersebut.


jokowi-jkJokowi relatif bersih dari korupsi dan sebagai orang baru, Jokowi bukan merupakan bagian dari rezim lama sehingga tidak tersandera oleh dosa politik masa lalu.

Jokowi sering melanggar janji publik yang dibuatnya, dari mulai janji besar seperti menunaikan tugas sebagai Gubernur DKI selama 5 tahun, sampai janji kecil seperti tidak memakai pesawat sewaan dan voorijder. Kebiasaan menebar janji dan cuek saat tidak menepati, membuat kejujurannya (congruency) dipertanyakan. Jokowi sering beralasan bahwa tindakannya hanya mengikuti keinginan partai, sehingga independensi dan keberanian (courage) dalam mengutamakan kepentingan bangsa diatas golongan jadi diragukan.

Koalisi pendukung Jokowi terbukti beberapa kali berbohong, misalnya Nasdem yang semula berjanji tidak akan menjadi partai politik, PDI-P yang melanggar kesepakatan batu tulis, dan tuduhan Pak Mahfud M.D. bahwa  Cak Imin (PKB) membohonginya saat pencalonan cawapres.

INTENT (NIAT)

prabowo-hattaPrabowo menyusun visi-misi book yang dilengkapi dengan angka target pencapaian. Hal ini memungkinkan publik memantau progress tingkat pencapaian selama pemerintahan berlangsung, serta menilai hasil akhir kinerja pemerintah dengan cara membandingkan janji vs. realisasi. Ini menunjukkan bahwa rencana kerja (agenda) Prabowo dibuat dengan matang, terkomunikasikan dengan baik, dan menegaskan keberaniannya untuk memenuhi janji.

Prabowo dituduh pernah berusaha melakukan kudeta terhadap presiden B.J. Habibie. Hal ini membuat sebagian orang khawatir bahwa Prabowo bisa memiliki motivasi dan agenda tersembunyi. Sebagian kalangan minoritas (WNI keturunan, non-muslim, aliran muslim non-sunni) mengkhawatirkan Prabowo memiliki motive untuk menggunakan kekuasaannya secara represif terhadap mereka.


jokowi-jkJokowi menyusun visi-misi book yang menjawab problem mendasar yang selama ini tidak diprioritaskan, yaitu pembangunan karakter bangsa dan toleransi. Sikap Jokowi yang sederhana dan merakyat menunjukkan keteladanan terhadap perilaku (behaviour) yang disajikan dalam visi-misinya tersebut.

Meskipun ditulis secara lengkap, poin-poin visi-misi Jokowi tidak banyak dilengkapi dengan target pencapaian. Poin-poin rencana kerja yang bersifat normatif ini membuat publik tidak bisa mengukur apakah janjinya (agenda) tercapai atau tidak. Sebagian kalangan muslim mengkhawatirkan partai pengusung Jokowi, yaitu PDI-P memiliki motive untuk menghambat potensi umat muslim di negeri yang mayoritas muslim ini atas dasar persaingan pengaruh dalam politik.

CAPABILITY (KEMAMPUAN)

prabowo-hattaPrabowo terdidik untuk memimpin dengan cara militer. Prabowo memiliki sikap (attitude) tegas dan berani, keahlian (skill) dalam strategi dan berkomunikasi yang efektif, pengetahuan dan wawasan internasional, serta gaya (style) memimpin yang disegani. Secara keseluruhan, Prabowo memiliki kemampuan yang lengkap sebagai seorang pemimpin.


jokowi-jkJokowi adalah pemimpin yang berasal dari sipil dengan latar belakang pebisnis dan pejabat daerah. Jokowi memiliki sikap (attitude)akomodatif terhadap berbagai golongan, keahlian (skill) persuasi tanpa represi. Keahliannya ini menciptakan kelebihan tersendiri karena membedakannya dari kebanyakan pemimpin yang seringkali mengambil pendekatan represif dalam menjalankan kebijakan. Pengetahuannya akan banyak terbantu dengan hadirnya para intelektual muda, serta gayanya (style) yang sederhana membuat Jokowi tidak berjarak dengan rakyat.

Sebagian orang menganggap Jokowi belum memiliki kemampuan sebagai pemimpin tingkat nasional. Kapabilitasnya seputar hubungan internasional, pertahanan-keamanan, dan perekonomian negara masih belum terbukti.

RESULT (HASIL)

prabowo-hattaPrabowo selama karirnya sebagai Jenderal berhasil melakukan beberapa misi militer seperti pembebasan sandera oleh OPM dan penangkapan pemimpin gerilyawan Timtim. Setelah menjadi warga sipil, Prabowo banyak melakukan mediasi internasional untuk kasus kemanusiaan seperti pembebasan Wilfrida dari hukuman mati. Prabowo juga aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan seperti HKTI dan perkumpulan olah raga silat. Dalam masa kepemimpinannya, timnas pencak silat tidak pernah kalah di turnamen internasional.

Prabowo dituduh melakukan pelanggaran HAM selama dia menjabat Danjen Kopasus dengan melakukan penculikan aktifis. Prabowo juga dituduh berencana melakukan kudeta terhadap B.J. Habibie. Apabila track-record tersebut benar, maka Prabowo merupakan sosok yang sangat berbahaya karena bisa mengembalikan Indonesia ke jaman diktator ala Soeharto. 


jokowi-jkJokowi menuai sukses ketika menjadi walikota Solo. Cerita suksesnya termasuk pemindahan PKL tanpa kekerasan dan meraih penghargaan nasional di bidang pariwisata. Di Jakarta, yang masalah utamanya adalah banjir dan macet, Jokowi sudah memulai beberapa inisiatif kegiatan, tetapi belum menunjukkan hasil yang signifikan. Sejauh ini, rekam jejak Jokowi dapat dikatakan bersih dari perbuatan tercela. Hal ini membuat banyak orang merasa aman memilih beliau.

Isi dari tabel di atas bisa berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Itu sah-sah saja, karena tabel diatas terisi berdasarkan informasi yang kita ketahui dan percayai. In fact, seiring dengan waktu, bertambahnya informasi, dan terungkapnya berita, orang-orang yang berpikiran terbuka bisa saja mengubah isian tabel tersebut, lalu mengubah haluan dan dukungannya.


Menentukan Pilihan

Bagi anda yang cenderung berpikir dengan perasaan/intuisi, isilah tabel perbandingan diatas secukupnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Timbang-timbanglah dengan intuisi anda, mana diantara keduanya yang lebih layak.

Bagi anda yang cenderung berpikir analitik/logis, isilah tabel perbandingan diatas selengkap-lengkapnya dengan informasi yang kita yakini valid (benar). Jangan pernah memasukkan informasi yang meragukan. Ingat, di luar sana lebih banyak informasi menyesatkan daripada yang valid. Beri Nilai % pada keempat faktor tersebut diatas. Jumlahkan semua nilai itu untuk mendapatkan kandidat yang lebih layak.

Prabowo Jokowi
Integrity ….% ….%
Intent ….% ….%
Capabilities ….% ….%
Results ….% ….%
TOTAL ….% ….%

Voilaaa… You Got The Winner 🙂


Tapi Kan….

Tapi kan… Prabowo direstui partai-partai Islam yang mau mengakomodasi kepentingan kaum muslim.

Tapi kan… Jokowi didukung PDIP yang mau mengakomodasi kepentingan kelompok non-muslim, sekte muslim minoritas, dan nasionalis.

Hmmm… kalau pikiran itu masih ada, rasanya sulit untuk berpikir objektif. Kalau pikiran-pikiran itu masih ada, apapun alasannya, pasti kita akan memilih satu capres tertentu tanpa melihat faktor lainnya lagi.

Ok, kalau masih penasaran, setelah melakukan perbandingan secara objektif, silahkan pikirkan kembali kepentingan kita dan ulang kembali perbandingan diatas. Lihat dan buktikan betapa kepentingan kita akan sangat mempengaruhi objektifitas penilaian. Sekarang terserah saja… Apakah mau memilih berdasarkan penilaian objektif, atau mau kembali memilih berdasarkan sentimen. Itu hak setiap individu. Setidaknya, kita tahu apa yang terjadi dengan proses pengambilan keputusan kita tersebut 🙂

Well… Setiap pilihan harus dihargai, apapun alasannya. Pemilih terafiliasi ataupun bebas sama-sama berhak menentukan cara dan hasilnya sendiri. Kita semua sedang berproses dan belajar menjadi pemilih dan negara yang lebih baik. Salam damai untuk seluruh bangsa Indonesia 🙂

Hiduplah Indonesia Rayaaaaaa…. indonesia-flag-icon

Iklan
Kategori:News
  1. 15 Juni 2014 pukul 7:36 PM

    cerdas sekali mas, ulasannya keren.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: